30 Juli, 2008

CATATAN HATI SEORANG ISTRI

Sungguh sangat menyentuh, mengharu biru, mendalam, apa yang dituturkan dalam buku yang ditulis Asma Nadia, berjudul CATATAN HATI SEORANG ISTRI. Di dalamnya, terdapat kisah-kisah “tragis” (menurut saya pengalaman para wanita yang dituturkan itu sangatlah tragis).

Ada banyak kisah tentang kesabaran para wanita, sebagai seorang istri, ketika dia menghadapi perilaku suaminya yang secara nyata telah menyakiti hatinya. Menyakiti hati orang yang pernah dicintainya, orang yang seharusnya di lindungi, dicintai, disayangi karena Allah. Benar apa yang Rasulullah SAW katakan, bahwa sebaik-baik suami adalah yang paling baik ahlaknya pada istrinya.

Para suami itu telah menggetarkan arsy Allah, ketika perjanjian dalam ijab kabul di kumandangkan. Dia, adalah orang yang menerima tongkat estafet dari ayahanda calon istrinya kepada dirinya, orang tua calon istrinya telah mempercayakan dirinya untuk menjadi pelindung, pengayom atas diri putri dan cucunya kelak. Tapi setelah ijab kabul itu berlalu, setelah pernikahan itu dijalankan, sedikit demi sedikit mulai terjadi degradasi perasaan atau pun perlakuan. Ternyata, dari kisah yang dituturkan dalam buku tersebut, para pria yang sudah berlabel “suami”, bisa dengan mudah membagi cintanya untuk wanita lain, dan umumnya mereka telah melakukan perbuatan yang dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan secara fisik, tetapi perlakuan yang membuat batin sang istri teraniaya, terluka, menjalani hidup dalam keadaan tertekan, tidak dapat merasakan kebahagiaan yang sejatinya harus diberikan oleh sang suami. Perlakuan suami yang mendiamkan istri, jangankan tersenyum atau mengajak bercanda, untuk sekedar bicara yang ahsan saja tidak dilakukannya, maka kelakuan seperti ini pun adalah bentuk KDRT.

Pernikahan dilakukan untuk tujuan kebahagian. Jika sudah saling menyakiti, apa yang bisa diharapkan dari sebuah pernikahan? Dari kisah yang dipaparkan di buku tersebut, umumnya para wanita bisa bersabar ketika mendapat penghianatan dari suaminya, tapi sesungguhnya perasaan tersakiti tentunya tidak akan bisa hilang dalam memori para wanita tersebut, perasaan tersakiti tersebut boleh jadi akan menurunkan kualitas hubungan diantara suami istri tersebut. Pernikahan seharusnya melahirkan perlakuan take and give. Pernikahan seharusnya untuk saling menjaga, menyanyangi, mencintai, yang semua itu bermuara karena ingin mengharap ridha Allah.

Menurut saya, buku ini sangat baik dibaca oleh para laki-laki, sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam menjaga perasaan para wanita. Dan satu hal yang juga penting dari buku ini, bahwa para wanita harus lah menjadi sosok yang mandiri, jadi wanita harus segala bisa, sehingga wanita akan memiliki bargaining position yang lebih baik.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, terlebih lagi menyakiti perasaan orang yang kita cintai........

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar